Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Larangan mencela waktu dalam agama islam

Tugas Makalah                                                                      
 Akidah Aklaq                                                           

LARANGAN MENCELA AD-DAHR (WAKTU) DALAM AGAMA ISLAM






TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
PEKANBARU
2018


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam yang telah melimpah kan rahmat dan karunia nya sehingga penulis berhasil menyusun makalah ini yang berjudul ‘’Larangan Mencela Ad-Dahr(Waktu) Dalam Agama Islam’’. Walau pun dalam proses penyusunan makalah ini penulis mendapat kan beberapa hambatan dan masalah tetapi dengan bantuan beberapa pihak dan atas seidzin zat yang maha kuasa akhir nya penulis berhasil menyusun makalah ini.
            Makalah ini di buat sebagai tugas individu Akldah Akhlak semester genap. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, oleh karna kritik dan saran dari pembaca sangat di harapkan dan akan di terima penulis dengan senang hati demi penyempurnaan makalah ini di masa mendatang.








Pekanbaru, 25 Desember 2018


                                                                                                            Penulis






DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………................i
Daftar Isi………………………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang………………………………………………………………………...1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………..1
1.3 Tujuan…………………………………………………………………………………1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ad-Dahr (Waktu)…………………………………………………………2
2.2 Hukum Mencela Ad-Dahr (Waktu)…………………………………………………..2
2.3 Hadis Larangan Mencela Ad-Dahr (Waktu)…………………………………………3
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………6
3.2 Saran…………………………………………………………………………………..6
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………7







BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menuntut ilmu adalah salah satu kewajiban bagi setiap orang Islam selama hayat masih dikandung badan. Untuk menunjukkan kesungguhan dalam memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu. Sikap disiplin mutlak diperlukan dalam meraih cita-cita.
Dalam kehidupan seororang muslim, waktu merupakan karunia yang tidak bisa ternilai dibandingkan harta dan yang lainnya. Mengoptimalkan waktu untuk ketaatan kepada Allah swt, merupakan modal kemanfa’atan kehidupan dunia dan akhirat sehingga mewujudkan keselamatan bagi dirinya. Menyia-nyiakan waktu dengan membiarkannya berlalau tanpa makna, berarti kesengsaraan dan kebinasaan bagi dirinya. Kita harus berusaha untuk memenafaatkan waktu sebaik-baiknya.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Pengertian Ad-Dahr (Waktu)?
2.      Bagaimana hukum mencela Ad-Dahr (Waktu)?
3.      Apa hadis yang melarang mencela Ad-Dahr (Waktu)?
1.3 Tujuan
1.      Pengertian Ad-Dahr (Waktu).
2.      Mengetahui hukum mecela Ad-Dahr (Waktu).
3.      Mengetahui hadis yang melarang mencela Ad-Dahr (Waktu).




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ad-Dahr (Waktu)
Waktu adalah ciptaan Allah SWT. Yang berada diluar kendali manusia. Waktu yang telah berlalu kemarin tidak akan ditemukan lagi hari ini, dan waktu hari ini tidak akan terulang besok. Sungguh waktu itu lebih berharga dari seluruh harta karun yang ada di dunia. kita tidak akan bisa membelinya dengan emas sekalipun. Kita juga tidak akan menemukan orang yang menjual waktu itu. Oleh karena itu, sungguh sangat disayangkan jika kita menyia–nyiakannya untuk hal yang tidak berguna.

2.2 Hukum Mencela Ad-Dahr (Waktu atau Masa)
Pertama, sekedar pernyataan tanpa maksud menjelekkan. Hal seperti ini boleh, contohnya: “Hari ini kami merasa lelah karena udara sangat panas,” atau “udara sangat dingin,” atau kata-kata lain yang serupa. Demikianlah, karena setiap perbuatan tergantung pada niatnya dan kata-kata seperti itu boleh sebagai suatu pernyataan atau berita semata-mata.
Kita dapat hal ini dari perkataan Nabi Luth ‘alaihissalam,
هَـذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Hud [11] : 77)
Kedua, mencela waktu sebagai pelaku, misalnya mencela masa dengan maksud bahwa waktu itulah yang menjadikan sebab berubahnya sesuatu menjadi baik atau buruk. Pernyataan seperti itu adalah kesyirikan berat karena orang yang melakukannya berkeyakinan bahwa disamping Allah ada pencipta lain sehingga kejadian-kejadian yang terjadi dikaitkan kepada selain Allah.
Ketiga, mencela masa dengan berkeyakinan bahwa penyebabnya adalah Allah. Masa dicela karena menjadi penggerak terjadinya perkara-perkara yang tidak disukai. Hal seperti ini diharamkan karena orang yang melakukannya telah mengesampingkan kesabaran yang wajib dimiliki dalam menghadapi cobaan. Akan tetapi ia tidak mencela Allah secara langsung. Sekiranya ia mencela Allah secara langsung (menyalahkan Allah atas kejadian buruk itu) maka ia kafir.
Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kita.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf [50] : 16-17)
2.3 Hadis Larangan Mencela Waktu
Dari Abu Hurairah R dari Nabi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam beliau bersabda:
لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allahlah masa.”
Makna ‘Allah adalah masa’ diterangkan dalam hadits qudsi , Allah Ta’ala berfirman:
يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Anak adam menyakiti-Ku dengan dia mencela masa, padahal Aku adalah masa, di tangan-Ku lah segala urusan. Akulah yang membolak-balikkan siang dan malam.”
Jadi, makna ‘Allah adalah masa’ adalah Allah pencipta dan pengatur masa.
Makna Hadits
Adapun makna hadits, dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah:
“Mereka (para ulama) berkata bahwa hadits ini adalah ungkapan (bukan hakiki) karena dulu orang Arab suka mencela waktu ketika terjadi malapetaka dan musibah yang menimpa mereka, baik berupa kematian, pikun, kehilangan harta dan yang lainnya, lalu mereka berkata: “Wahai waktu yang sial!’ atau kalimat lainnya yang mengandung celaan terhadap waktu. Maka berkatalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“ Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allahlah masa.”
Artinya janganlah kalian mencela pembuat kejadian karena apabila kalian mencela pembuat kejadian terkenalah celaan itu kepada Allah , karena ialah pembuat kejadian itu. Adapun Ad-Dahr itu sendiri maknanya adalah waktu (masa), dia tidak punya perbuatan bahkan dia adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allah. Dan makna “Sesungguhnya Allah adalah Ad-Dahr (waktu)” artinya pembuat dan pencipta peristiwa dan kejadian. Wallahu A’lam.”
Imam Al-Baghowiy-rahimahullah- berkata, “Sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, ” janganlah seseorang mangatakan : “Wah, celaka karena masa!”, maknanya bahwa diantara kebiasaan orang Arab adalah mencela masa, yaitu pada waktu kejadian-kejadian (musibah), karena menisbatkan musibah-musibah dan perkara-perkara yang tidak disukai kepada masa. Mereka biasa mengatakan (tentang orang yang tertimpa musibah), “Masa-masa sial telah menimpa mereka; mereka telah dibinasakan oleh masa”. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan tentang mereka di dalam kitab-Nya seraya berfirman,
وَقَالُوْا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدَّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ
“Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup. Tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”. (QS.Al-Jatsiyah :24 ).
Jika mereka menisbatkan kesusahan yang menimpa mereka kepada masa, berarti mereka mencela pelaku yang membuat kesusahan-kesusahan itu, sehingga celaan mereka tertuju kepada Allah, karena Dia adalah Pelaku sebenarnya terhadap perkara-perkara yang mereka nisbatkan kepada waktu. Oleh karena inilah, mereka dilarang mencela waktu.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.      Waktu adalah ciptaan Allah, waktu terus berjalan dan tak kan pernah terulang, maka jangan lah menyia nyiakan waktu.
2.      Mencela waktu sama saja kita menyakiti Allah karna masa atau waktu adalah Allah.
3.      Jangan lah mengaitkan segala hal yang terjadi di sebabkan karna waktu, semua yang terjadi pada waktu itu iyalah kehendak Allah.
3.2 Saran
            Semoga apa yang telah di tuliskan di makalah ini dapat di ambil inti sarinya yang kemudian di amalkan dan berguna di kehidupan dimasa yang akan dating.







           



Dafta Pustaka

Makalah ini mengambil referensi dari:
https://muslimafiyah.com/jangan-pernah-mencela-angin-dan-masawaktu.html

Posting Komentar untuk "Larangan mencela waktu dalam agama islam"